MENARIK MAHASISWA INTERNATIONAL

Selasa, 29 Maret 2011


Secara khusus, jumlah besar mahasiswa AS yang belajar di luar negeri setiap tahun adalah pasar yang belum disentuh dan umumnya diabaikan oleh universitas-universitas di Indonesia. 
 
Memiliki mahasiswa internasional terdaftar di suatu kampus adalah suatu poin plus bagi universitas mana pun yang ingin mencapai status kelas dunia. Terlebih lagi, pertukaran cendekiawan akan meningkatkan reputasi Indonesia untuk ilmu pengetahuan dan penelitian dan mengarah ke kolaborasi jangka panjang dengan centres of excellence di seluruh dunia, sehingga memberi para peneliti Indonesia akses ke temuan-temuan ilmiah besar terkini.
 
Namun, masalah dan tantangan yang lebih besar untuk Indonesia saat ini adalah meningkatkan jumlah mahasiswa internasional di kampus-kampusnya. Dari mana kemungkinan mahasiswa internasional ini berasal dan apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan jumlah mahasiswa internasional di Indonesia? Bagaimana situasi yang ada?

Indonesia telah menarik 5.366 mahasiswa tersier internasional pada tahun 2007, menurut data resmi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Angka ini, meskipun menunjukkan peningkatan sebesar 13.4% pada tahun lalu, masih tetap rendah dibandingkan dengan mahasiswa internasional yang belajar di negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Australia. Malaysia memiliki 47.928 mahasiswa tingkat universitas internasional, sementara Australia memiliki 177.760 mahasiswa pada tahun 2007.

Mayoritas mahasiswa internasional di universitas-universitas di Indonesia berasal dari Malaysia (53 %) dan Timor Leste (31 %). Kedokteran adalah jurusan favorit, dipilih oleh 47 persen dari mahasiswa internasional ini, diikuti oleh Ilmu-ilmu Sosial dan Teknik, yang masing-masing berjumlah di atas 900 mahasiswa.

Mahasiswa dari negara-negara lain seperti Cina, Korea Selatan, dan Jepang secara keseluruhan masing-masingnya berjumlah kurang dari 200. Amerika Serikat (AS) pun hanya diwakili oleh 29 mahasiswa. Ini hanya bagian kecil dari jumlah total mahasiswa AS yang pergi ke luar negeri untuk belajar biasanya untuk satu semester. Sebanyak 223.534 mahasiswa AS belajar di luar negeri pada 2006.

Tujuan paling populer untuk mahasiswa-mahasiswa ini adalah Inggris (32.705), diikuti oleh Italia dan Spanyol masing-masing lebih dari 20,000 mahasiswa. Cina menerima 11.064, sementara Thailand menerima 1.584 mahasiswa AS.

Tetangga yang untung
Berdasarkan data-data itu bisa dilihat, bahwa tetangga-tetangga Indonesia menerima lebih banyak daripada Indonesia yang hanya berjumlah 29 mahasiswa. Australia, dengan penduduk yang sedikit dibandingkan Indonesia atau AS, memiliki jumlah kecil mahasiswa yang belajar di luar negeri.
 
Berdasarkan penelitian belakangan ini, sekitar 8.354 mahasiswa Australia mengambil program studi internasional tahun 2007. Jumlah ini hanya 6 persen dari jumlah total mahasiswa S-1 di Australia. Adapun negara-negara tujuan terpopuler adalah di Eropa (39 % dari pengalaman), Asia (31 %) dan benua Amerika (25 %) dengan AS sebagai negara favorit bagi mahasiswa Australia yang akan belajar di luar negeri.

Sebagai persentase dari jumlah total mahasiswa yang belajar di luar negeri, hanya 2 persen mahasiswa Australia menuju Indonesia, dibandingkan dengan persentase AS yang hanya 0,01 persen.

Pada 2008, sekitar 150 mahasiswa Australia menjalani program studi formal di Indonesia. Para mahasiswa itu melakukannya di bawah program Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS) dan program Endeavour Student Exchange yang keduanya didukung oleh Pemerintah Australia. Sebanyak 100 lainnya atau lebih berpartisipasi dalam short courses intensif.

Lebih miris lagi, semua mahasiswa itu belajar bahasa Indonesia di samping seni (tari, musik) dan kebudayaan. Secara keseluruhan, maka wajar untuk dikatakan bahwa Indonesia tertinggal dari tetangga-tetangganya dalam hal menarik mahasiswa internasional.

Secara khusus, jumlah besar mahasiswa AS yang belajar di luar negeri setiap tahun adalah pasar yang belum disentuh dan umumnya diabaikan oleh universitas-universitas di Indonesia. Fokus Indonesia masih berkisar pada dua tetangga dekatnya, yaitu Malaysia dan Timor Leste, dan pada mahasiswa-mahasiswa yang belajar sepanjang masa studinya di Indonesia.

Kini, tren global dari mobilitas mahasiswa internasional bergerak ke arah yang berlawanan. Pergerakan mahasiswa internasional didominasi oleh program-program studi jangka pendek di luar negeri. Maka, kira-kira apa yang dapat universitas-universitas di Indonesia lakukan?

0 komentar:

Posting Komentar

Subardini Bariel, S.Si, M.M.. Diberdayakan oleh Blogger.